CAPAIAN IPG

1. Perkembangan IPM Laki-Laki dan Perempuan

  • IPM Laki-Laki meningkat dari 85,97 (2022) menjadi 87,22 (2024) → naik 1,25 poin dalam 3 tahun.
  • IPM Perempuan naik dari 77,72 (2022) ke 79,38 (2024) → naik 1,66 poin dalam 3 tahun.


👉 Artinya, kemajuan perempuan lebih cepat dibanding laki-laki, walaupun level pencapaiannya masih lebih rendah.


2. Kesenjangan Gender

Selisih IPM laki-laki dan perempuan:

  • 2022: 8,25 poin
  • 2023: 8,08 poin
  • 2024: 7,84 poin


👉 Terlihat adanya penyempitan kesenjangan setiap tahun, walau selisih masih cukup besar.


3. Indeks Pembangunan Gender (IPG)

IPG meningkat dari 90,40 (2022) → 90,68 (2023) → 91,01 (2024).

Peningkatan ini menunjukkan adanya kemajuan kesetaraan dalam pembangunan manusia, meski perubahannya masih relatif lambat (kenaikan rata-rata 0,3 poin per tahun).


4. Interpretasi

  • Positif: Arah pembangunan menunjukkan tren yang konsisten menuju kesetaraan gender. Perempuan mengalami peningkatan lebih signifikan sehingga kesenjangan perlahan mengecil.Tantangan: Selisih IPM laki-laki dan perempuan masih cukup lebar (~7,8 poin pada 2024). Hal ini menandakan bahwa perempuan masih menghadapi hambatan dalam mengakses pendidikan, kesehatan, maupun kesejahteraan ekonomi setara dengan laki-laki.



📌 Kesimpulan:

Secara umum, IPM perempuan tumbuh lebih cepat daripada laki-laki, sehingga IPG membaik dari tahun ke tahun. Namun, upaya percepatan tetap diperlukan agar kesenjangan gender bisa dipersempit lebih signifikan, khususnya melalui kebijakan afirmatif yang meningkatkan kualitas pendidikan, kesehatan reproduksi, serta pemberdayaan ekonomi perempuan.

INDIKATOR IPM Laki-laki & Perempuan

INDIKATOR IPM LAKI-LAKI


1. Angka Harapan Hidup (AHH)

  • 2022: 73,19 tahun
  • 2023: 73,32 tahun
  • 2024: 73,52 tahun


👉 Terjadi peningkatan stabil, sekitar +0,33 tahun dalam 3 tahun. Ini menunjukkan kondisi kesehatan laki-laki semakin baik, meski kenaikannya relatif kecil.


2. Harapan Lama Sekolah (HLS)

  • 2022: 15,01 tahun
  • 2023: 15,20 tahun
  • 2024: 15,21 tahun


👉 Ada kenaikan +0,20 tahun. Artinya anak laki-laki diproyeksikan bersekolah lebih lama, hampir menyelesaikan jenjang perguruan tinggi (15 tahun ≈ sarjana).


3. Rata-Rata Lama Sekolah (RLS)

  • 2022: 11,1 tahun
  • 2023: 11,32 tahun
  • 2024: 11,38 tahun


👉 Kenaikan +0,28 tahun. Ini berarti rata-rata laki-laki sudah menamatkan pendidikan setara SMA kelas XI–XII.


4. Pengeluaran per Kapita yang Disesuaikan

2022: Rp22,004 ribu

2023: Rp22,539 ribu

2024: Rp23,317 ribu


👉 Peningkatan sekitar +1,31 juta rupiah dalam 3 tahun, menandakan daya beli dan kesejahteraan ekonomi laki-laki semakin membaik.


5. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Laki-Laki

  • 2022: 85,68
  • 2023: 86,51
  • 2024: 87,22


👉 Peningkatan +1,54 poin dalam 3 tahun. Kenaikan ini konsisten dengan perbaikan di sektor kesehatan, pendidikan, dan ekonomi.

  • Semua indikator menunjukkan tren positif.
  • Faktor dominan peningkatan IPM laki-laki adalah pendidikan (HLS & RLS) serta pendapatan.


Tantangan: laju peningkatan AHH relatif lambat, sehingga perbaikan layanan kesehatan preventif dan kualitas hidup perlu terus diperkuat.


📌 Data ini memperlihatkan bahwa laki-laki di Samarinda mengalami peningkatan kualitas hidup secara menyeluruh dalam periode 2022–2024.



INDIKATOR IPM PEREMPUAN



1. Angka Harapan Hidup (AHH)

  • 2022: 77,96 tahun
  • 2023: 78,11 tahun
  • 2024: 78,39 tahun


👉 Perempuan memiliki usia harapan hidup lebih tinggi dibanding laki-laki (selisih sekitar +4,8–4,9 tahun). Kenaikan stabil +0,43 tahun dalam 3 tahun.


2. Harapan Lama Sekolah (HLS)

  • 2022: 15,28 tahun
  • 2023: 15,57 tahun
  • 2024: 15,76 tahun


👉 Lebih tinggi dari laki-laki (selisih +0,55 tahun di 2024). Artinya, perempuan berpotensi menempuh pendidikan lebih lama.


3. Rata-Rata Lama Sekolah (RLS)

  • 2022: 10,35 tahun
  • 2023: 10,60 tahun
  • 2024: 10,62 tahun


👉 Masih lebih rendah dari laki-laki (selisih –0,76 tahun di 2024). Perempuan rata-rata hanya sampai kelas X SMA, sedangkan laki-laki mendekati tamat SMA.


4. Pengeluaran per Kapita yang Disesuaikan

  • 2022: Rp10,455 ribu
  • 2023: Rp10,748 ribu
  • 2024: Rp11,151 ribu


👉 Masih jauh di bawah laki-laki (selisih hampir Rp12 juta di 2024). Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan kesejahteraan ekonomi antara laki-laki dan perempuan.


5. Indeks Pembangunan Manusia (IPM)


 Perempuan

  • 2022: 76,90
  • 2023: 77,92
  • 2024: 79,38


👉 Naik +2,48 poin dalam 3 tahun → lebih cepat dari laki-laki (+1,54 poin).


Latar belakang

Pengarusutamaan Gender (PUG) adalah strategi yang digunakan untuk mengintegrasikan perspektif gender dalam perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi kebijakan dan program pembangunan. Tujuan utama PUG adalah mencapai kesetaraan gender dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk pendidikan, ekonomi, politik, dan kesehatan.

Untuk mengukur capaian program PUG, beberapa indikator yang digunakan antara lain:


  • Partisipasi Perempuan dalam Pengambilan Keputusan: Meningkatnya jumlah perempuan di posisi kepemimpinan dan politik.
  • Akses terhadap Pendidikan dan Pelatihan: Persentase perempuan yang mengakses pendidikan tinggi dan pelatihan keterampilan.
  • Kesempatan Kerja dan Kesejahteraan Ekonomi: Keterlibatan perempuan dalam dunia kerja dan kewirausahaan.
  • Kesehatan dan Kesejahteraan: Penurunan angka kematian ibu, peningkatan layanan kesehatan reproduksi.
  • Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender: Pengurangan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Indeks terkait penyelenggaraan Pengarusutamaan Gender (PUG)

Indeks merupakan alat ukur yang digunakan untuk menggambarkan atau menilai suatu kondisi berdasarkan data kuantitatif dan kualitatif. Dalam konteks Pengarusutamaan Gender (PUG), indeks berperan sebagai indikator untuk menilai tingkat kesetaraan dan keadilan gender dalam berbagai aspek kehidupan, seperti ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan partisipasi politik.


Beberapa indeks yang digunakan sebagai indikator PUG salah satunya adalah Indeks Pembangunan Gender (IPG). Mengukur capaian pembangunan manusia dengan mempertimbangkan kesenjangan antara laki-laki dan perempuan dalam tiga aspek utama: umur harapan hidup, pendidikan, dan pendapatan per kapita. Semakin tinggi IPG, semakin kecil kesenjangan gender dalam pembangunan manusia.


Perhitungan Indeks Pembangunan Gender (IPG)

Indeks Pembangunan Gender (IPG) dihitung berdasarkan perbandingan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) antara laki-laki

dan perempuan. IPG mengukur sejauh mana pembangunan manusia dinikmati secara adil oleh kedua gender.

Berikut adalah uraian mengenai IPM laki-laki dan perempuan sebagai dasar perhitungan IPG:


Indeks Pembangunan Manusia (IPM)
IPM mengukur pencapaian pembangunan manusia dalam tiga dimensi utama:

Kesehatan (harapan hidup saat lahir)

Pendidikan (rata-rata lama sekolah dan harapan lama sekolah)

Standar hidup layak (pengeluaran per kapita yang disesuaikan)


IPM Berdasarkan Gender

IPM Laki-laki dihitung berdasarkan indikator yang sama, tetapi dengan data yang spesifik untuk laki-laki.

IPM Perempuan dihitung dengan cara yang sama, tetapi menggunakan data yang khusus untuk perempuan.


Perhitungan IPG
IPG dihitung sebagai rasio antara IPM perempuan dan IPM laki-laki:



Jika IPG mendekati 100, berarti kesenjangan pembangunan antara laki-laki dan perempuan kecil. Sebaliknya, semakin rendah nilai IPG, semakin besar ketimpangan pembangunan berdasarkan gender.

cpaian pada INDIKAtor ipm

 Perbandingan Laki-Laki vs Perempuan

Kesehatan (AHH) : Perempuan lebih unggul.


Pendidikan:

HLS (potensi sekolah) → Perempuan lebih tinggi.

RLS (realisasi sekolah) → Perempuan masih tertinggal.


Ekonomi: Perempuan jauh tertinggal → beban struktural dalam pekerjaan dan pendapatan.


IPM: Gap laki-laki & perempuan menurun:

2022: Selisih 8,78 poin

2024: Selisih 7,84 poin


👉 Kesenjangan menurun, tetapi masih cukup lebar.

KESIMPULAN

Perempuan menunjukkan kemajuan lebih cepat (terutama di pendidikan & kesehatan), sehingga IPM mereka meningkat lebih signifikan.


Namun, ketimpangan ekonomi masih menjadi faktor terbesar yang menahan percepatan kesetaraan.


Peningkatan IPG dari 90,4 (2022) → 91,01 (2024) mencerminkan tren positif, tetapi akselerasi kebijakan perlu diarahkan pada peningkatan akses kerja layak, upah setara, dan penguatan partisipasi ekonomi perempuan.

New text element